Info peluang usaha, Bisnis Rumahan, Modal usaha, bisnis online dan Usaha kecil>

Jenis-jenis Kopi Kelas Dunia, Dari Arabica Sampai Luwak

Banyak orang hanya mengenal dua jenis kopi, yaitu Arabica dan Robusta. Pasalnya, kopi yang beredar di dunia secara umum adalah 70% Arabica dan 28% Robusta. Padahal masih ada dua jenis kopi lain yang tak kalah berkelas, yaitu  kopi liberica dan kopi excelsa dengan peredaran sebesar 2 persen. Dua jenis terakhir memang jarang sekali didengar.

Berikut ini ulasan tentang keempat jenis kopi tersebut, termasuk kopi luwak:

Kopi Arabica

Ilustrasi kopi arabica
Jenis kopi yang berasal dari Brasil dan Etiopia ini menguasai 70 persen pasar kopi dunia. Kopi arabika memiliki banyak varietas, tergantung negara, iklim, dan tanah tempat kopi ditanam. Anda bisa menemukan kopi toraja, mandailing, kolumbia, brasilia, dan lain sebagainya. Antara kopi arabica satu dengan yang lain pun memiliki rasa yang cukup berbeda. 

Berikut ciri-ciri kopi arabika:

  • Aromanya wangi sedap mirip percampuran bunga dan buah. Hidup di daerah yang sejuk dan dingin.
  • Memiliki rasa asam yang tidak dimiliki oleh kopi jenis robusta.
  • Rasa kental saat disesap di mulut.
  • Rasa kopi arabika lebih mild atau halus.
  • Kopi arabika juga terkenal pahit.

Arabica sendiri masih terbagi lagi menjadi dua, yaitu commercial arabica dan specialty arabica. Commercial arabica merupakan arabica pasaran, meski sebenarnya kelasnya masih lebih tinggi ketimbangrobusta, tapi tidak memiliki rasa specific yang unik.

Jenis lain, specialty arabica hanya dihasilkan di Indonesia. Commercial arabica mendominasi dunia dengan 63%, terutama di Columbia dan Brazil. Sementara specialty arabica hanya mengisi 7%.

Terdapat tujuh jenis kopi arabica, enam diantaranya di hasilkan oleh Indonesia satu lainnya dihasilkan oleh Jamaica yang sangat terkenal dengan nama Blue Mountain. Jenis kopi Blue Mountain  asli cukup mahal, rasanya mantap dan enak.

Enam jenis kopi arabica yang dihasilkan oleh Indonesia adalah: Gayo di Aceh, Mandheling di Sumatera Utara, Java di Jawa (terutama Jawa Timur), Kintamani di Bali, Toraja di Sulawesi dan jenis baru Mangkuraja dari Bengkulu.

Jenis kopi Toraja  sering juga disebut dengan Kalosi Toraja, Mandheling kadang ditulis dengan Mandailing. Ada juga orang yang menggolongkan jenis kopi Gayo dan Mandheling menjadi satu yaitu Sumatra Coffee, seperti penggolongan jenis yang dilakukan oleh Starbucks.

Kopi Robusta

ilustrasi kopi robusta

Jenis kopi ini menguasai 28 persen pasar dunia. Kopi ini tersebar di luar Kolumbia, seperti di Indonesia dan Filipina. Sama seperti arabika, kondisi tanah, iklim, dan proses pengemasan kopi ini akan berbeda untuk setiap negara dan menghasilkan rasa yang sedikit banyak juga berbeda.

Ciri-ciri kopi robusta:

  • Memiliki rasa yang lebih seperti cokelat.
  • Bau yang dihasilkan khas dan manis.
  • Warnanya bervariasi sesuai dengan cara pengolahan.
  • Memiliki tekstur yang lebih kasar dari arabika.

Jenis kopi arabica hanya bisa tumbuh di ketinggian sekitar 800 – 1000 m dpal, sementara  robusta tumbuh di ketinggian di bawah 800 dpl. Tanaman robusta di Indonesia kebanyakan merupakan peninggalan jaman penjajahan Belanda. Uniknya, jenis kopi arabica yang tumbuh di satu daerah jika ditanam di daerah lain akan berubah aroma, rasa dan keunikannya.

Misalnya jenis kopi Gayo dibawa ke Sulawesi, atau jenis kopi Toraja dibawa ke Jawa, ditanam di tempat yang bukan habitat aslinya, hasil panennya tidak akan sama lagi dengan jenis induknya. Apapun sistem penanaman itu, jenis kopi arabica tadi akan berubah karakteristiknya sesuai dengan tempat penanaman.

Jenis kopi robusta di Indonesia banyak ditanam di Sumatera bagian selatan, termasuk Lampung dan sekitarnya, dan juga di Jawa. Indonesia cukup banyak menghasilkan kopi ini dan salah satu pemasok penting dunia.

Baca juga : Mengenal Kopi Robusta, Ciri dan Cita Rasanya

Kopi Ekselsa

Kopi jenis ini jarang sekali didengar. Kopi ini berada di antara arabika dan robusta. Kopi ekseksa saat ini masih dalam tahap pengembangan. Kopi excelsa merupakan salah satu jenis kopi yang paling toleran terhadap ketinggian lahan.

Kopi ini bisa tumbuh dengan baik didataran rendah mulai 0-750 meter dpl. Selain itu, kopi excelsa juga tahan terhadap suhu tinggi dan kekeringan. Pohon kopi excelsa bisa menjulang hingga 20 meter. Bentuk daunnya besar dan lebar dengan warna hijau keabu-abuan. Kulit buahnya lembut, bisa dikupas dengan mudah oleh tangan.

Jenis kopi excelsa memiliki produktivitas rata-rata 800-1.200 kg/ha/tahun. Kelebihan lain jenis kopi excelsa adalah bisa tumbuh di lahan gambut. Di Indonesia, excelsa ditemukan secara terbatas di daerah Tanjung Jabung Barat, Jambi.

Kopi Liberica

Konon, jenis kopi liberica merupakan best of the best dari segala kopi di dunia ini. Sayangnya kopi liberica ini sangat sedikit yang beredar. jenis kopi liberica ini banyak terdapat di pedalaman Kalimantan dan sudah ratusan tahun menjadi minuman tradisional suku Dayak. Pohon liberica bisa mencapai ketinggian 30 m, dan dengan ukuran biji terbesar di dunia.

Kopi Luwak

Kopi jenis ini merupakan kopi yang berasal dari biji kopi arabika atau robusta yang dimakan oleh luwak. Luwak akan menelan buah kopi (berwarna merah) dan memprosesnya dengan enzim yang ada di perutnya. Biji dari buah kopi itu lalu terbuang bersama kotorannya. Biji inilah yang dinamakan kopi luwak.

Kopi luwak menjadi lebih istimewa karena luwak mencari buah kopi yang 90 persen matang. Luwak tidak melihat warna, tetapi menggunakan daya penciuman yang tajam dan selalu mencari kopi pada malam hari.

Dalam satu pohon kopi, hanya satu atau dua biji yang dimakan. Dengan begitu, kopi yang diambil oleh luwak adalah kopi dengan nilai kematangan tertinggi yang tentunya sangat berpengaruh pada rasa kopi nantinya.

Banyak kalangan yang sinis dan menganggap jenis kopi luwak hanyalah mitos. Namun, kenyataannya jenis kopi luwak memang satu-satunya kopi paling exotic dan langka di dunia. Penghasil kopi luwak yang paling kuat hanyalah Indonesia dan Dilipina.

Di Indonesia masih kalah dengan Phillipines yang sudah mulai menekuni dan mencoba menternakkan luwak, dan banyak sekali para spesialis yang memiliki ilmu khusus melacak keberadaan luwak di pegunungan-pegunungan.

Bagaimana dengan kopi instant?

Sifat dari kopi yang sudah digiling adalah tidak larut dalam air sehingga dari aspek kepraktisan dipikirkanlah cara untuk menjaga kenikmatan kopi. Pada tahun 1901, seorang warga negara Amerika keturunan Jepang, Satori Kato, menemukan metode freeze-dried yang menjadi cikal bakal untuk jenis kopi instan.

Berikutnya, di tahun 1906 seorang ahli kimia Inggris, George Constant Washington yang tinggal di Guatemala, menemukan metode untuk produksi besar-besaran kopi instan ini. Barulah di tahun 1938 jenis kopi instan dikomersialkan dalam skala industri oleh Nescafe.

Kopi instan mayoritas terdiri dari jenis robusta yang dicampur dengan jenis arabica dengan komposisi yang berbeda tiap merek dan jenis yang ada di pasaran. Jenis arabica menang di aroma, flavor dan taste, tapi meninggalkan rasa asam di ujung lidah sehabis menyeruput double-shot espresso.

Sementara jenis kopi robusta memiliki keunggulan yang dinamakan “body” yang kuat dan sedap. Body di sini bisa juga disebut dengan ‘after-taste’ yaitu rasa yang ditinggalkan di lidah kita setelah tetes terakhir dicecap.

Rasa, bau dan aroma kopi yang menyenangkan akan tinggal agak lama dan tidak ada jejak rasa asam. Masing-masing keunggulan itulah yang dicoba dikombinasikan dengan blending kedua jenis tersebut sesuai komposisi dan ramuan sesuai resep masing-masing merek

Baca juga : Kategori Peminum Kopi, Anda Masuk yang Mana?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*