Info peluang usaha, Bisnis Rumahan, Modal usaha, bisnis online dan Usaha kecil>

Ini Cerita Masuknya Kerajinan Batik Ke Solo

Masuknya kerajinan batik di Solo memang masih menjadi perdebatan banyak pihak. Namun ditegaskan Alpha Pabela, Ketua Paguyuban Pembatik Laweyan, kerajinan batik masuk ke Solo jauh sebelum Keraton Mataram pindah ke Surakarta. “Banyak bukti-bukti mendukung pernyataan itu. Bahkan dari seorang sejarawan, Sudarmono, dia telah mebeberkan bukti-bukti temuannya menyangkut masuknya batik ke Solo itu,” ungkapnya.

Sekitar tahun 1500-an kerajinan batik masuk ke Kota Solo. Tersebutlah Kyai Ageng Enis yang merupakan pembawa kain yang dicanting dengan malam ini. Pada tahun itu, Keraton Pajang lah yang masih berkuasa.

Menurut Alpha, saat itu batik juga dijadikan alat perlawanan rakyat Laweyan terhadap penjajah. “Motif semen itu menggambarkan kehidupan yang makmur, serta menyimbolkan kesuburan, serta tentang kepemimpinan dan penguasa yang adil. Dengan motif batik semen itu, rakyat Laweyan ingin menunjukkan perlawanan terhadap penjajahan yang terjadi di Indonesia”.

Perdagangan Batik

Pada tahun 1800-an industri batik di Laweyan mulai tumbuh. Lokasi Laweyan yang dilewati sungai Laweyan yang bermuara di Bengawan Solo membuat batik Laweyan berkembang pesat. “Laweyan yang terletak di barat daya Kota Solo dilewati aliran sungai Pajang yang bermuara ke Bengawan Solo. Dari situ, banyak pedagang dari luar termasuk dari China, Gujarat, Arab, bahkan Eropa datang untuk berdagang,” jelas Alpha.

Perdagangan batik terus maju dan semakin tumbuh di abad ke-18. Majunya perdagangan batik, juga berimbas pada kehidupan warga Laweyan yang kian makmur. Saat itu kemudian banyak juragan batik kaya dari Laweyan yang dikenal dengan sebutan Mbok Mase. Masing-masing juragan itu bahkan memiliki pegawai hingga ratusan orang.

Batik dari Laweyan pun dianggap sebagai barang ekspor pertama yang menjadi komoditi Indonesia. Tahun 1930-an sudah ada interaksi pembatik Laweyan dengan orang luar. Mereka mengekspor batik ke negara-negara lain di Asia dan Eropa. Bukti itu, salah satunya adalah dari bangunan para juragan batik diLweyan yang mengikuti gaya neo klasik, gaya bangunan Eropa pada 1900-1930an. “Gaya itu ditiru karena memang ada interaksi langsung dengan orang luar (negeri). Mereka bahkan banyak yang mengambil barang-barang keramik dari Eropa untuk hiasan di rumah mereka,” Alpha Pabela menerangkan.

Selain gaya bangunan Eropa, di Laweyan arsitektur bangunan juga mengadopsi gaya bangunan pemukiman muslim di mana rumah-rumah dibangun di dalam tembok-tembok yang tinggi. “Hal itu karena kecenderungan kita untuk tidak mempertontontan kemegahan. Meskipun di dalam rumahnya besar dan bagus, tapi ditutup dengan gerbang tinggi. Maknanya, bahwa gaya rumah itu tidak menimbulkan riak atau pamer,” jelas Alpha.

Selain itu, majunya kerajinan batik di Solo saat itu ditandai juga dengan Pasar Laweyan yang berdiri tahun 1954. Di pasar itulah perdagangan batik terus bergulir. Para pedagang dari luar Solo datang ke Laweyan, begitu pula sebaliknya. Kini, di bekas lokasi pasar tersebut didirikan monumen Laweyan yang berada di tengah-tengah kampung.

Batik, Paduan Makna dan Cara

Batik Solo terus berkembang. Di Laweyan, motif batik memang lebih beragam karena batik banyak diseuaikan pula dengan keinginan pasar. Motif-motif yang ada tidak terlalu terpaku pakem kerajinan batik keraton. “Karena batik Laweyan itu untuk perdagangan, motifnya pun beragam,” tegas Alpha.

Motif Sidomukti, Sidoluhur memang ada. Namun banyak pula motif batik lain, bahkan muncul motif batik abstrak. “Bisa dibilang motif batik di sini (Laweyan.Red) adalah motif mandiri, motifnya diciptakan masyarakat untuk masyarakat,” lanjutnya.

Namun, satu yang diyakini para pembatik di Laweyan, batik adalah yang ditulis atau dicap. “Karena inti batik itu kan proses memberi malam-nya itu. Kalau printing itu bukan batik, itu hanya motifnya saja yang batik,” tegas pria berkacamata tersebut.

Demi memertahankan identitas batik itu, maka pembatik di Laweyan memang bertahan pada kerajinan batik tulis dan cap hingga sekarang. “Memang tidak salah kalau batik printing muncul karena permintaan pasar yang tinggi. Namun, yang harus ditegaskan, batik itu ya tulis atau cap, jadi sebisa mungkin, di Laweyan, itu yang dibuat”.

Di Laweyan Alpha dan para pengusaha batik lain juga mendirikan kawasan terbatas Laweyan di mana Laweyan menjadi induk industri batik di Solo dan sekitarnya. Dengan luas wilayah 24,5 ha Laweyan memang tidak bisa menampung semua pembatik dengan proses pembatikan yang membutuhkan lahan luas. “Sekarang memang Laweyan jadi kawasan terbatas. Untuk pembuatan batik yang besarnya, ada di luar Laweyan. Namun, Laweyan jadi induknya, penjualannya di sini,” terangnya.

Ke depan, Alpha berharap, batik khususnya batik Laweyan lebih dikenal di mata dunia. “Sekarang memang sudah banyak pelanggan dari luar. Apresiasi dari pemerintah juga bagus. Tapi, Kami berharap, di kampung ini para pembatik lebih guyub untuk memajukan batik di mata dunia,” tutupnya.

Sumber : terasolo.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*