Info peluang usaha, Bisnis Rumahan, Modal usaha, bisnis online dan Usaha kecil>

Batik Putra Laweyan, Berawal dari Usaha Keluarga

Gerai Batik Putra Laweyan Solo/foto:putralaweyan.co.id
Gerai Batik Putra Laweyan Solo/foto:putralaweyan.co.id

Mengusung tagline Different and Classy, Batik Putra Laweyan mencoba memposisikan diri menjadi produsen batik yang memiliki produk berbeda dari produk-produk batik lainnya. Produk batik yang dijual pun diproduksi dalam jumlah terbatas.

“Saya tidak takut untuk bersaing dengan produsen-produsen batik lain di daerah Laweyan ini karena produk saya yang memang berbeda dengan produk batik-batik lain,” tutur Gunawan Muh Nizar, pemilik Batik Putra Laweyan saat ditemui tim terasolo.com, Senin (29/4/2013). “Warna-warna khas Batik Putra Laweyan yang cenderung soft awalnya memang aneh, tapi kini malah menjadi ciri khas dari Batik Putra Laweyan,” tambah Gunawan.

Berawal dari Usaha Keluarga

Tak berbeda dari kebanyakan produsen batik di daerah Laweyan, Batik Putra Laweyan pun merupakan usaha turun-temurun. Batik Bintang Mulya yang memproduksi kain-kain batik tulis di tahun 1967 merupakan rintisan pertama, namun harus tutup di tahun 1979. Perusahaan ini merugi dan tak sanggup bersaing dengan perusahaan-perusahaan batik lain yang menggunakan proses printing sehingga produksinya lebih efisien dan lebih murah.

Pada tahun 1981, perusahaan Batik Bintang Mulya berdiri kembali dengan nama baru, Batik Cahaya Putra. Perusahaan batik ini memproduksi kain-kain bermotif modern dengan gaya baru sesuai selera konsumen. Setelah kian berkembang, di tahun 1990an Gunawan mencoba membuka usaha batik sendiri lepas dari usaha keluarga. Setelah melengkapi berbagai persyaratan dan izin usaha, akhirnya terbentuklah usaha CV. Batik Putra Laweyan di tahun 2000. Dan sejak tahun 2004, Gunawan menggunakan rumahnya sebagai store dari Batik Putra Laweyan.

Mem-branding Batik

Branding batik yang kini telah digunakan menjadi pakaian sehari-hari tak lepas dari cerita tentang batik yang diklaim milik Malaysia. “Sekitar tahun 2004 saat itu Malaysia mengklaim batik sebagai milik negaranya. Masyarakat yang marah menjadi berbondong-bondong membeli batik. Sebagai kampung batik, Laweyan menjadi destinasi pembelian batik juga menjadi tempat yang sering diliput,” ungkap Gunawan. Penjualan Batik Putra Laweyan juga tercatat cukup tinggi di tahun 2009 saat batik ditetapkan sebagai milik Indonesia oleh UNESCO.

Berkembangnya nama Batik Putra Laweyan pun terbantu dengan lokasinya di kampung batik Laweyan yang banyak memiliki sejarah mengenai batik dan perdagangan. “Batik Putra Laweyan menjadi sering diliput oleh media dan juga dikunjungi oleh tokoh-tokoh besar seperti Megawati sehingga nama Batik Putra Laweyan lebih dikenal oleh masyarakat,” papar Gunawan. Selain itu, promosi juga dilakukan menggunakan brosur, papan nama, dan website sebagai sarana pengembangan produknya.

Baca juga : Ini Cerita Masuknya Kerajinan Batik Ke Solo

Inovasi Produk

Tak cukup dengan promosi, menurut Gunawan, inovasi untuk produknya pun harus terus dilakukan agar bisa bertahan dan mengikuti selera konsumen. Meskipun berbahan dasar utama batik, produk yang dihasilkan beragam mulai dari kain, kemeja, kaos, dan aksesoris. “Bahkan limbah kain sisa produksi juga kita gunakan untuk membuat aksesoris boneka batik,” katanya. Selain itu, Batik Putra Laweyan pun memiliki inovasi produk baru berupa jaket kulit campur batik yang baru di-launching.

Kegemaran Gunawan dalam menginovasi dan membuat produk baru yang berbeda membuat Gunawan justru enggan mengeksport produknya. “Kalau kerja untuk dieksport itu terkadang terasa membosankan karena didikte dan produk yang dihasilkan harus selalu sama dalam jumlah yang banyak. Padahal, seni menurut saya itu bebas,” Gunawan menjelaskan.

Selain store penjualan batik, Batik Putra Laweyan juga menyediakan workshop pembuatan batik bagi pengunjung yang tertarik untuk membuat batik. Di workshop ini pengunjung dapat melihat proses pembuatan batik tulis dan batik cap. Tak hanya itu pengunjung juga bisa turut membuat batik dengan biaya hanya Rp30.000 dengan mendapatkan kain seukuran sapu tangan dan juga peralatan membatik. Hasil karya dari pengunjung itu pun bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Sumber : Terasolo.com

Kontak dan Informasi Batik Putra Laweyan :

Gunawan Muh Nizar
Jl Sidoluhur No 6, Laweyan, Solo
0271-712123, 0271-735854

web : putralaweyan.co.id



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*